Proposal Hidup Dimiliki, Proposal Nikah Menanti

Pernah jadi panitia kegiatan? Sebutlah kegiatan Pentas Seni di sekolah atau kegiatan lainnya.

Untuk mencapai target yang sudah ditentukan, biasanya panitia membuat proposal kan? Pastilah, wajib itu. Di mana proposal tersebut difungsikan untuk mendapatkan dana, jasa atau sesuatu baik kepada sponsor, individual atau lembaga. Di proposal tertulis sangat jelas, detail dan spesifik mengenai nama kegiatan, jenis kegiatan, temanya, sasaran peserta yang diharapkan, kuantitasnya, tujuan sampai tim pelaksana, rincian dana, jadwal kegiatan dan lain-lain.

Sepaling lama kegiatan ya hanya sebatas seminggu atau sebulan saja agendanya. Tidak ada yang setahun atau lebih. Maka pertanyaannya simpel, untuk acara yang satu sampai dua hari kita butuh proposal, kenapa untuk hidup kita yang berjalan puluhan tahun tidak membuat proposal? Malah kita membiarkan hidup kita tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa cita-cita. Lalu ada di antara kita yang masih membela prinsip, ‘hidup yang penting mengalir saja seperti air’.

Sidang Muktamar Jomblo yang berbahagia.

Hidup seperti air yang mengalir bila dipahami pada konteks ini justru bahaya. Seolah hidup kita tak punya prinsip. Namanya air mengalir pasti akan sampai pada titik kumpul. Asal asyik terombang-ambing ikuti jalur jalan lalu lintas yang ada. Tanpa tahu mau dibawa kemana diri ini. Persoalannya kita tak pernah tau kemana air itu mengalir akhirnya. Apakah ke sungai yang kumel, hitam dan berbau atau ke lautan biru yang berpasir putih. Maka hidup selayak air mengalir sama dengan kita bukan menjadi raja bagi hidup kita sendiri.

Mulai kini, jadilah raja bagi hidup kita sendiri. Dengan membuat proposal hidup untuk alarm ketika kita lupa dan lemah.  Asal tahu saja, ada sebuah riset menarik. Riset ini dilakukan antara tahun 1979 dan 1989. Mark McCormack mewawancara lulusan MBA di Harvard Business School. Pada tahun 1979, mereka ditanya dengan pertanyaan yang sama, “Apakah Anda telah menyusun suatu rencana hidup yang jelas, spesifik, dan tertulis?”

Kamu tau hasilnya sobat? Sebanyak 3% responden menyatakan telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik, dan tertulis. Lalu ada 13% mengungkapkan telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik Cuma nih Cuma tidak tertulis. Sisanya, 84% mengaku pumya rencana hidup saja belum, apalah lagi menyusun secara spesifik dan jelas.

Tak cukup sampai disitu. Sepuluh tahun kemudian, 1989, Marck kembali mewawancara semua responden pada tahun 1979. Hasilnya dahsyat tenan, 13% yang menyatakan punya rencana hidup yang jelas, spesifik tapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata dua kali lipat dibandingkan dengan 84% (yang belum memiliki dan menyusun rencana hidup). Dahsyat banget kan?

Eits bentar dulu, ada yang lebih mengagumkan. Lulusan 3% yang memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik dan tertulis memiliki penghasilan yang besarnya rata-rata 10 kali lipat dibandingkan 97% lulusan sekolah bisnis tersebut. Coba itu, maka nikmat menulis mana lagi yang kamu hendak dustakan?

Maka, gerakkan jemari kamu buat menulis proposal hidup. Jangan bermimpi menikah, bila proposal hidup saja belum dimiliki. Mau tau cara bikinnya? Sabar, nanti insyaaAllah akan kita sharing kembali. Intinya, jomblo berkah ialah seseorang yang punya proposal hidup yang rinci, jelas, spesifik dan tertulis. Sebelum proposal nikah dirancang, berletih-letih dululah  berjuang untuk proposal hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *