Membaca kata kesurupan identik dengan hal mistis dan ghaib. Kesurupan biasanya disebut-sebut dengan kemasukan setan atau roh. Di dunia modern seperti sekarang ini, kesurupan bukan lagi dianggap sebagai hal yang ilmiah. Bahkan bagi yang mempercayainya dijuluki generasi ketinggalan zaman.

Duuh, lupakan soal kesurupan setan, di sini kita bukan mau gosipin musuh bebuyutan manusia tersebut. Tapi ingin mengungkap adanya fenomena baru yang lebih menyeramkan. Tingkat keangkerannya melampaui setan, itulah kesurupan cinta. Jikalau kesurupan setan terjadi katanya karena pikirannya kosong. Kesurupan cinta lebih dahsyat lagi, ia menyerang siapapun tanpa pandang bulu. Bahkan yang ahli ibadah semalaman suntuk jungkir balik shalat mudah baginya diserang makhluk mengerikan ini. Hingga yang isi otaknya penuh dengan dalil pun ikut serta kerasukan. Serem kan?

Singkatnya, kesurupan cinta ialah julukan bagi mereka yang cintanya sudah melebihi batas keterlaluan. Terangnya, ini khusus bagi manusia yang punya kedekatan special dengan lawan jenis. Kami sengaja memakai kata ‘kedekatan’. Konon banyak yang membantah tidak pacaran tapi aktivitasnya mengarah jelas ke pacaran. Kami meyakini pastinya itu bukan Anda. Ada yang menggelari dengan sahabat, kakak dan adik angkat sampai label ‘cuma teman aja ko’. Itu ialah sebuah alibi untuk menutupi kebusukan nafsu yang ditutup-tutupi.

Lantas bagaimana mengetahui seseorang kesurupan cinta?

Jawabannya sederhana, ketika cinta makhluk ada di atas cinta-Nya disitulah kesurupan terjadi. Seseorang yang sudah membangun kedekatan dengan lawan jenis tapi belum berani menikahi itu pun kesurupan namanya. Nah, kesurupan level akut ialah bukan cinta yang berujung kepada kebablasan. Tapi ketika mantra-mantra Ilahiyah dan wejangan-wejangan Nabi tidak lagi mempan untuk menyembuhkan kesurupan cinta. Betapa banyak orang yang sudah mengetahui keharaman pacaran tapi masih tenang-tenang saja melakukan dosa tersebut.

Maka wajar baru-baru ini Pemuda Muhammadiyah mencanangkan Gerakan Anti Pacaran. Gerakan yang diapresiasi penuh oleh pemerhati pengasuhan anak (parenting), Neno Warisman. Karena di masyarakat sudah mulai ada kelonggaran sistem di masyarakat yang membebaskan aktivitas pacaran. Ini disebabkan sudah meratanya kesurupan cinta merasuki berbagai kalangan. Hal yang perlu ditangisi, pacaran pula mewabah ke generasi kalangan pemikir dan kritik yang disebut mahasiswa dan aktivis. Pun menghilangkan iman kaum sarungan yang disebut santri dan aktivis dakwah. Itu terjadi karena hilangnya kendali pada makhluk yang bernama cinta. Sudah melampaui batas kewajaran cinta menguasai si majikan.

Aristoteles, filsuf ternama, pernah memberikan nasihat, “Apapun yang berlebihan, akan jadi rahim bagi kejahatan.”

Maka semenjak seseorang kerajukan cinta dan menjadikannya berlebihan, itulah permulaan kejahatan terjadi. Dari galau tanpa kabar, memaafkan usai diselingkuhi dan lahirnya aktivitas terlarang bagi dua insan yang belum menikah.

Oleh karenanya betapa penting cinta diilmui agar mampu kita kontrol dan kemudi. Bukan malah cinta yang mengemudi kita. Dengan kita menjadi pengemudi cinta, kita yang akan mengendarai cinta ke jalan surga-Nya. Lagi pula, cinta ialah bahasa kalbu yang menyoal harus imbangnya logika dan perASAan. Camkan baik-baik, cinta ialah cinta jika itu menumbuhkan ASA bukan kejahatan. Jika cinta mematikan ASA dan melahirkan kejahatan, itulah kesurupan cinta!

Sumber foto: 8tracks.com